WEB BLOG
this site the web

Kesalahan system atau Manusianya ?

Ada hal yang membuat hati miris saat (harus selalu) berhadapan dengan realitas social negeri ini yang seperti potret buram. Saya memandangnya dari sisi ekonomi. Karena dampak dari permasalahan ekonomi ini rembetan masalahnya bisa meluas ke berbagai sector, seperti social, budaya, politik dan hukum bahkan moral.

Lihat saja di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya. Hampir di setiap sudut kota akan kita dapati anak-anak jalanan, pengemis, pengamen dan orang-orang terpinggirkan lainnya, dan mereka dianggap sebagai parasit ekonomi-sosial. Saya sering bertanya dalam hati, apakah pemerintah tidak menyadari keberadaan mereka? Bagaimana cara mengatasinya?

Pertanyaan seperti ini selalu berputar-putar dalam benak, bersamaan dengan pertanyaan lain yang juga tidak kalah menggelitik hati, apa atau siapa yang salah ini? Adakah yang patut dipersalahkan? Ada sebagian yang berpendapat ini adalah kesalahan manusia-nya. Benarkah?

Tapi saya tidak sependapat. Bukan mereka yang salah. Bukan manusianya. Manusia2 seperti mereka jadi terpinggirkan hanya karena tidak memiliki akses ekonomi. Alias fakir miskin. Dan ini bukan salah mereka.

Menurut pendapat saya ini adalah mutlak kesalahan sebuah sistem. Kerena memang sistem ekonomi yang ada tidak mengakomodasi keberadaan mereka. Dan hanya mengakomodasi manusia-manusia yang memiliki modal alias kaum berduit dan yang memiliki akses pada perekonomian.

Ya sistemlah yang salah. Sekali lagi aku bicara sistem ekonomi. Dalam hal ini kapitalisme. Walaupun mungkin tidak secara eksplisit menyatakan bahwa negeri menganut sistem kapitalisme, tetapi dalam prakteknya jelas terlihat bahwa sistem inilah yang memainkan perannya secara signifikan. Disadari atau tidak. Sehingga kemudian dapat disimpulkan bahwa tanpa disadari, ternyata nilai-nilai yang ada dalam kapitalisme memberikan kecenderungan yang kontradiktif dari apa yang menjadi tujuan pembangunan fisik ekonominya.

Permasalaha-permasalahan social yang muncul dalam ekonomi seperti diatas, kesenjangan sosial, kemiskinan, kriminalitas, pengangguran dan konflik sosial masih menjadi rapor merah yang mengacaukan prediksi-prediksi pembangunan. Khususnya bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia. Bagaimana tidak, beberapa kali berganti pemimpin, permasalahan yang sama masih selalu saja muncul, yang hingga detik ini masih belum terselesaikan dengan baik.

Perlu pula disadari, bahwa hingga kini kapitalisme belum mampu mengatasi fenomena ini. Dari analisa sederhana, saya berkeyakinan, jika sistem ini masih memegang peran dalam perekonomian suatu bangsa, maka bukan suatu hal yang mustahil fenomena-fenomena seperti ini akan terus kita saksikan.

Walaupun memang tak dapat dipungkiri bahwa kapitalisme telah memberikan begitu banyak hasil positif bagi peradaban umat manusia. Perkembangan teknologi, kemudahan fasilitas hidup, infra struktur dan variasi produk menjadi bukti bahwa kapitalisme menunjukkan perannya yang signifikan.

Namun terlepas dari semua itu, ternyata terdapat data-data yang begitu jelas menunjukkan bahwa sistem kapitalisme memberikan goncangan-goncangan ekonomi dan implikasi-implikasi yang negative. Mulai jeratan hutang dihampir seluruh negara berkembang, kemiskinan yang semakin luas di negara dunia ketiga dan krisis-krisis ekonomi khususnya sector keuangan. Seperti yang baru-baru ini terjadi, krisis ekonomi global.

Mengutip kata-kata Roy Culpeper, dalam artikelnya “New economic architecture”, mengatakan dengan tegas dan jelas bahwa kesalahan bukanlah terletak pada manusia-manusia dibalik pembuatan kebijakan dalam sebuah sistem perekonomian, tapi adalah sistem itu sendiri yang menjadi sumber dari semua kekacauan ekonomi.

Berikut kutipannya : “Sistemlah yang patut disalahkan daripada pelakunya. Seperti yang diibaratkan oleh Robert Wade, meluasnya kecelakaan lebih disebabkan oleh “desain jaringan” daripada pelaku buruk sopir. Dalam artikel Briefing yang saya tulis untuk institute North-South pada Juni 1998, saya menamai masalah ini sebagai ketidak stabilan sytemik. Ketidak stabilan ini telah berjalan terus menerus dikemudikan oleh pemerintahan tertentu yang dipimpin oleh USA dan kelompok G7-nya dan tekanan2 dari industry keuangannya sendiri, untuk meliberalisasi sector keuangan dan transaksi rekening modal diseluruh dunia”.

Jadi, saya fikir haruslah ada sebuah sistem yang bisa mengakomodasi semua kondisi. Baik yang berduit maupun yang tidak sama sekali. Khususnya bagi mereka yang dianggap parasit, yang tidak memiliki akses ekonomi tadi

0 komentar:

Posting Komentar

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies